Kamis, 01 Februari 2018

Pelajaran Berharga dari Pak Lion



Sore hari setelah sholat Ashar berjamaah, saat Si Abdi sedang memikirkan banyak hal yang tak jelas ke mana rimanya, di dalam ruangan persegi 4x4 meter, tiba-tiba ponsel berdering “kring… kring ….kring … kring …”, dia pun menorah ke arah benda itu dengan perasaan yang penuh Tanya… hatinya berkata siapa yah ?. Kemudian, dia mengambil dan menggenggam ponsel itu dan melihat pada layarnya. Ternyata yang menelpon adalah seorang lelaki yang pernah ia bantu mengangkatkan barangnya yang telah dibeli ketika berada di pasar. Sebut saja namanya Lion, jika ada orang yang bertanya siapa yang paling tua diantara mereka berdua, maka jawabannya adalah pak Lion. Pak Lion mengajar disalah satu sekolah dasar favorit dalam areal perkotaan.
Abdi mengusap pun tanda panggilan berwarna hijau diponselnya dan mulai mengucapkan salam dan berkata “apa ada yang bisa saya bantu, pak ?”. Jawab Lion, “Ada nak, Bisa kah kamu ke rumahku sekarang ?. Jawab Abdi, “iya pak, saya usahakan”. Si Abdi ini tak banyak Tanya lagi lalu mematikan panggilan diponselnya tadi dan bergegas menuju ke rumah pak Lion. Biasanya ketika bepergian Abdi meminta bantuan jasa kepada temannya untuk diantar ke tujuannya. Tetapi, saat itu teman-temannya juga pergi entah ke mana sehingga tidak ada teman yang bisa dipakai jasanya untuk mengantarkan dirinya. Si Abdi mengusahakannya hingga dia naik ojek hanya untuk sampai ke rumah pak Lion. Setibanya di rumah pak Lion, Abdi bertanya. ‘ada apa sebenarnya pak ? sampai saya dimingta harus ke sini, “saya ingin kamu membantu saya untuk membuat proposal kegiatan”, jawab pak Lion. “Kegiatan apa ?”, Abdi balik bertanya. Jawab pak Lion, “kegiatan dialog public”. “apa yang akan dibahas dalam dialog itu pak ?” (Abdi Tanya lagi). Jawaban pak Lion, “pandangan tokoh masyarakat terhadap situs peninggalan sejarah kota semerbak”.  OKK… (Sahut Abdi). Abdi diminta untuk belajar membuat latar belakang dari kegiatan yang direncanakan itu. Abdi pun dihadapkan di depan Laptop dan Jari – jemarinya mulai nampak melekat pada keyboard laptop dan terlihat raut wajahnya yang kelihatan seperti orang yang sedang berpikir. Yahh, tepat sekali Abdi sedang berpikir merangkai kata demi kata untuk membentuk paragraf yang menarik tentang dasar pemikiran mengapa kegiatan itu dapat diterima sebagai kegiatan yang perlu untuk dilakukan.
Malam pun tiba, suara adzan dari segala penjuru terdengar sampai dikedua kuping Abdi. Abdi berkata kepada pak Lion, “Pak, aku ingin sholat maghrib dulu”, jawab pak Lion, “iya, silahkan, pergilah ke masjid di bawah sana, lalu sholat lah ..”. Abdi pun meninggalkan keyboardnya dan melangkah menuju masjid tersebut.
          10 menit kemudian, Abdi telah melaksanakan penghambaan-Nya, kemudian dia kembali ke rumah pak Lion dan setibanya disana dia meletakkan kembali jari –jemarinya ke keyboard dan melanjutkan tugasnya yang terskorsing selama beberapa menit. Kembali berpikir tentang apa yang harus dia ketik. Dia pun menemukan untaian kata dan menggerakan jari –jemarinya untuk menuangkan idenya tersebut. Selang waktu tak sampai 10 menit kemudian, tulisan yang dia buat telah selesai. Abdi memanggil pak Lion untuk melihat tulisannya tersebut. Tak ada koreksi dari pak Lion, dia hanya berkata, “sesungguhnya apa yang kamu kerjakan adalah usaha mu dan tulisan yang kamu buat adalah bernilai benar dalam pandangan mu, tetapi ketika tulisan itu diperlihatkan kepada orang lain maka boleh jadi orang tersebut mengatakan apa yang kamu tulis salah, maka hendaklah begini dan begitu. Janganlah kata salah itu masuk ke dalam hati mu, tetapi terimalah saran hendaklah begini dan begitu. Tulisan yang kamu buat tidaklah salah karena berasal dari buah pikiranmu sendiri, maka berkaryalah dan teruslah berlatih membuat tulisan dari apa yang kamu rasakan atau dari apa yang kamu sedang pikirkan”. Abdi mnganggukkan kepalanya, dan berkata, “aku paham mengapa engkau memanggilku ke rumah mu”.
            Setelah itu, Abdi pun mengucapkan terima kasih kepada pak Lion karena telah berbaik hati untuk mengajarkan sesuatu yang berharga di hari itu dan pak Lion juga mengucapkan terima kasih kepada Abdi karena telah berkunjung ke rumahnya. Mereka pun saling berjabat tangan dan Abdi pun pamit pulang ke rumahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar