Garam lokal (asli) dari Provinsi Jawa Timur bisa didapatkan dengan harga terjangkau. Garam lokal ini memiliki tampilan butir yang bersih dan dikemas secara menarik
Garam ini bisa dipesan kepada kami melalui via facebook atau whatsup
Cerpen Anak Wolio
Selasa, 18 Februari 2020
Kamis, 01 Februari 2018
Pelajaran Berharga dari Pak Lion
Sore hari setelah
sholat Ashar berjamaah, saat Si Abdi sedang memikirkan banyak hal yang tak
jelas ke mana rimanya, di dalam ruangan persegi 4x4 meter, tiba-tiba ponsel berdering
“kring… kring ….kring … kring …”, dia
pun menorah ke arah benda itu dengan perasaan yang penuh Tanya… hatinya berkata
siapa yah ?. Kemudian, dia mengambil dan menggenggam ponsel itu dan melihat
pada layarnya. Ternyata yang menelpon adalah seorang lelaki yang pernah ia
bantu mengangkatkan barangnya yang telah dibeli ketika berada di pasar. Sebut
saja namanya Lion, jika ada orang yang bertanya siapa yang paling tua diantara
mereka berdua, maka jawabannya adalah pak Lion. Pak Lion mengajar disalah satu
sekolah dasar favorit dalam areal perkotaan.
Abdi mengusap pun tanda
panggilan berwarna hijau diponselnya dan mulai mengucapkan salam dan berkata “apa ada yang bisa saya bantu, pak ?”. Jawab
Lion, “Ada nak, Bisa kah kamu ke rumahku
sekarang ?. Jawab Abdi, “iya pak,
saya usahakan”. Si Abdi ini tak banyak Tanya lagi lalu mematikan panggilan
diponselnya tadi dan bergegas menuju ke rumah pak Lion. Biasanya ketika bepergian
Abdi meminta bantuan jasa kepada temannya untuk diantar ke tujuannya. Tetapi,
saat itu teman-temannya juga pergi entah ke mana sehingga tidak ada teman yang
bisa dipakai jasanya untuk mengantarkan dirinya. Si Abdi mengusahakannya hingga
dia naik ojek hanya untuk sampai ke rumah pak Lion. Setibanya di rumah pak
Lion, Abdi bertanya. ‘ada apa sebenarnya
pak ? sampai saya dimingta harus ke sini, “saya ingin kamu membantu saya untuk membuat proposal kegiatan”,
jawab pak Lion. “Kegiatan apa ?”,
Abdi balik bertanya. Jawab pak Lion, “kegiatan
dialog public”. “apa yang akan
dibahas dalam dialog itu pak ?” (Abdi Tanya lagi). Jawaban pak Lion, “pandangan tokoh masyarakat terhadap situs
peninggalan sejarah kota semerbak”.
OKK… (Sahut Abdi). Abdi diminta untuk belajar membuat latar belakang
dari kegiatan yang direncanakan itu. Abdi pun dihadapkan di depan Laptop dan Jari
– jemarinya mulai nampak melekat pada keyboard laptop dan terlihat raut
wajahnya yang kelihatan seperti orang yang sedang berpikir. Yahh, tepat sekali
Abdi sedang berpikir merangkai kata demi kata untuk membentuk paragraf yang
menarik tentang dasar pemikiran mengapa kegiatan itu dapat diterima sebagai
kegiatan yang perlu untuk dilakukan.
Malam pun tiba, suara
adzan dari segala penjuru terdengar sampai dikedua kuping Abdi. Abdi berkata
kepada pak Lion, “Pak, aku ingin sholat
maghrib dulu”, jawab pak Lion, “iya,
silahkan, pergilah ke masjid di bawah sana, lalu sholat lah ..”. Abdi pun
meninggalkan keyboardnya dan melangkah menuju masjid tersebut.
10
menit kemudian, Abdi telah melaksanakan penghambaan-Nya, kemudian dia kembali
ke rumah pak Lion dan setibanya disana dia meletakkan kembali jari –jemarinya
ke keyboard dan melanjutkan tugasnya yang terskorsing selama beberapa menit.
Kembali berpikir tentang apa yang harus dia ketik. Dia pun menemukan untaian
kata dan menggerakan jari –jemarinya untuk menuangkan idenya tersebut. Selang
waktu tak sampai 10 menit kemudian, tulisan yang dia buat telah selesai. Abdi
memanggil pak Lion untuk melihat tulisannya tersebut. Tak ada koreksi dari pak Lion,
dia hanya berkata, “sesungguhnya apa yang
kamu kerjakan adalah usaha mu dan tulisan yang kamu buat adalah bernilai benar dalam
pandangan mu, tetapi ketika tulisan itu diperlihatkan kepada orang lain maka
boleh jadi orang tersebut mengatakan apa yang kamu tulis salah, maka hendaklah
begini dan begitu. Janganlah kata salah itu masuk ke dalam hati mu, tetapi
terimalah saran hendaklah begini dan begitu. Tulisan yang kamu buat tidaklah
salah karena berasal dari buah pikiranmu sendiri, maka berkaryalah dan teruslah
berlatih membuat tulisan dari apa yang kamu rasakan atau dari apa yang kamu
sedang pikirkan”. Abdi mnganggukkan kepalanya, dan berkata, “aku paham mengapa engkau memanggilku ke rumah
mu”.
Setelah
itu, Abdi pun mengucapkan terima kasih kepada pak Lion karena telah berbaik
hati untuk mengajarkan sesuatu yang berharga di hari itu dan pak Lion juga
mengucapkan terima kasih kepada Abdi karena telah berkunjung ke rumahnya.
Mereka pun saling berjabat tangan dan Abdi pun pamit pulang ke rumahnya.
Langganan:
Postingan (Atom)